Saturday, November 24, 2012

DINDING

Dinding ini… seperti sebuah memory yang terpahat didalamnya. Dengan sebuah perasaan, sebuah harapan dan ikatan dimana aku tetap bertahan. Tepat disaat rintik hujan itu perlahan pulang, aku memberanikan diri untuk meyakinkan aku lagi akan sebuah perasaan akan harapan yang masih tersimpan bukan membeban. Helai perhelai memory ini kembali memaksa aku mengulas harapan yang tersisa. Begitu manis, begitu banyak memory yang terbuang begitu saja. Begitu FRONTAL.

hangatnya hujan

-Hujan- 16.30 @pringsurat-semarang Akhirnya… ungkapnya lega, desahnya yang seolah membuka asa yang kini mulai terjawab. Dengan gamang terpampang betapa nampak begitu paraunya wajah ini yang menghela setiap nafas yang tercekat di begitu sesaknya rongga dada, tentang pula begitu lemahnya sebuah keyakinan. Teduh mendayu wajahnya pun kini mulai lagi memancar. Ya… aku cukup senang untuk melihatnya lagi sore ini. Bau basah dari tanah kering yang lama tak menyapa. Hangat tutur kata yang aku rinduka. Sebuah kehangatan yang turun saat deru hujan menjelma menjadi sebuah lingkaran yang tetap mengatas namakan diatas sebuah persahabatan. Kuharap ini bukan samar, bukan sebuah kemasan atau bahkan delusi akan hausnya diri ini tentang sesosok yang hangat. Bukan pula tentang sebuah rasa yang berlebihan, hanya saja kami cukupkan. Hujan… seperti apa yang selalu ia banggakan, ia agungkan atas sebuah sosok yang akan tetap begitu hangat untuk ku, untuknya, untuk siapapun itu. Aku tak ingin lagi mengungkapan segala sesuatunya terlalu implisit. Ini tentang dimana sebuah logika dan perasaan akan menyatu menjadi sebuah pertahanan hati yang kuat, dewasa yang seperti aku dambakan ataupun tidak sama sekali. Ini tentang sebuah pendewasaan yang mungkin terlambat. Hujan ini pun datang diwaktu yang tepat. Dengan curahnya yang menderu lebat, yang kini membuatku semakin yakin untuk bertahan. Ini tentang sebuah pilihan. Pilihan dimana aku harus bertahan pada sebuah keyakinan akan sanggupkah aku bertahan. ini bukanlah tentang sebuah beban melainkan rasa tulus akan menjalani sebuah tanggung jawab besar akan berdirinya masing masing dari jati diri. Berdirinya sesosok pribadi baru, pribadi yang akan terbentuk untuk lebih kuat kah atau hanya terperangkap. Pilihan… aku tidak sedang dihadapkan kepada satu, dua atapun beberapa pilihan. Ini hanya tentang pilihanku untuk memutuskan bagaimana caraku untuk tetap tinggal. Tentang caraku untuk membuat ku tersadar. Aku akan sadar seberapa besar ketulusan dan arti dari tetesan hujan, pancaran bintang atu bahkan saat hanya gerimis yang datang. Ini bukanlah tentang bagaimana hati yang dingin akan terkikisnya sebuah perasaan yang terlalu dilebih-lebihkan. Bukanlah sebuah kesalahan fatal akan mengagungkan ikatan persaudaraan dan persahabatan. Ini tentang bagaimana aku bertahan dengan hangatnya tubuh ini dalam deru badai kegalauan. Ya… sebuah pertahanan.

Monday, November 5, 2012

in between

Hanya ada dua pilihan. Antara memilih atau tidak sama sekali. Antara berbagi atau tidak sama sekali. Antara mengasihi atau tidak sama sekali. Antara memaafkan atau … menyerah, ya menyerah pada api merah yang menyala itu, luka lebar yang menganga itu. Bukanlah karena mereka menyelimutimu, membuatmu nyaman atas terselubungnya raga dalam gelap pesonanya yang membahana. Gelak tawa mu kian resah. Bukan bermakna pasrah. Belum pula menyerah. Sosok itu duduk terdiam jauh dan terlihat begitu dalam, sosok itu tak nampak lemah. Memang tak nampak. Tak sedikitpun nampak, namun hanya berisyarat melalui baris baris yang tak pernah dapat aku mengerti sepenuhnya. Berkata melalui celah celah nada, menitikkan airmata diantara tetes hujan yang menyegarkan jiwa ini yang sesungguhnya. Tak mudah. Aku tak dengan mudahnya menangkap sumbang nada, parau suaranya yang telah lama membisik ditelinga ini. Begitu pelan, begitu dalam, begitu samar hingga kerap membuat ia pun tak sadar akan paraunya suara diantara megah dan merdu nyanyiannya. Sosok itu kokoh, angkuh, yang sekaligus rapuh. Tak satupun, tak sedikitpun, tak tersentuh, tak tercium betapa anyir luka yang tak kunjung mengering itu. Luka yang sebenarnya kian menganga hingga warna putih tulang yang nampak, tulang putih yang nyata. Yang nyatanya memang begitu kokoh untuk menjaganya untuk tetap tegak. Untuk tetap merasakan linu di pergelangan sendinya. Tak susah, tak pernah terlalu susah untukku, mendapati dia yang terengah diantara riuh semangatnya yang pudar, diantara keterjagaannya akan raga yang kian usang,terengah ditengah-tengah sorak-sorak samar yang terlihat bahagia. Diantara dua pilihan. Antara memilih atau tidak sama sekali. Antara berbagi atau tidak sama sekali. Antara mengasihi atau tidak sama sekali. Antara memaafkan atau … menyerah. Ya menyerah akan dirinya. Menyerah akan lautan lukanya. Menyerah akan segala rasa dan bahagianya. Ya.. bahagia untuk mendapati dua pilihan sekaligus dalam hidupnya. Diantara dua pilihan. Antara memilih atau tidak sama sekali. Antara berbagi atau tidak sama sekali. Antara mengasihi atau tidak sama sekali. Antara memaafkan atau … menyerah. Ya menyerah akan ketidakmampuanku menyadari semuanya yang terlanjur terlambat, terlanjur berjalan lambat, terlanjur pudar yang samar namun jelas nanar. Tentang memilih… membagi…mengasihi … atau kembalinya lagi pada kata menyerah. Ya menyerah akan sakitnya pilihan pilihan ini, menyerah akan hausnya rasa membagi, menyerah akan betapa penyesalan ini ingin segera diampuni. Ya… aku. Aku yang menyerah… atau tidak memilih sama sekali. --“I’m always thinking hard to taking off your burden while I’m fixing my own so... Let me be…”— I’m in between.Journey-12.12-1012. in resume by Fan.Outside a broad downright rots the laughing luxury