Sunday, March 18, 2012
Persimpangan Jalan
Seperti ini rasanya, semakin dekat.. semakin rapat jekak ini menepak.
Aku semakin ragu untuk kembali melangkahkan kaki ini ke depan.
Aku takut, atau mungkin hanya terlalu lelah hingga akhirnya aku hanya bersandar pada sebidang bahuku sendiri.
Menerawang terbang berimajinasikan masa depan yang nyata.
Masa depan yang mungkin tak lagi bisa aku genggam pada saatnya.
Atau inikah bagian dari masa depanku ya Tuhan?
Masa depan yang hanya bisa menatap penuh asa, berpeluh gelisah akan menghilangnya diri ini perlahan?
Aku telah sampai di persimpangan jalan dimana ia memisahkan kehidupan, tak lagi aku berani melangkah atau sekedar menggerakan kaki ini bahkan mengumpulkan nyali untuk mengukuhkan niat hati.
Seorang teman bertanya padaku… entah.. mungkin ini kali pertama mungkin ini kali terakhir… bertanya tentang apa yang ku ininginkan sekarang. Banyak.. jawabku datar. Impian-impian bodoh yang aku sendiri tak akan pernah tahu kapan akan kembali kuperjuangkan. Keinginan-keinginan yang terlalu wajar yang aku juga tak pernah memahaminya. Nafsu-nafsu duniawi yang menggebu hanya karena aku terlalu mengilhami bahwa hidup hanya sekali.
aku hanya ingin senyuman-senyuman itu akan pantas untukku.
Syair-syair lagu dan alunan lirih ini akan senantiasa mengantarku dengan bangga.
Kebersamaan yang tak akan pernah luntur dan akan tetap kubawa hingga pada waktunya dan akan membiarkanku tetap berjalan walau perlahan.
03.45 am
Saturday, March 3, 2012
Tetap tak menangis
Aku diam menahan tangis
Sesak! Menyeruak perlahan dalam dada
Serasa dada ini penuh, dengan rong-rongan asa
Selirih rintih hati ini tipis
Hela nafas kian dalam
Tercekat dalam rongga dada
Kian berat nafas ini terasa
Dan Perih menjarah raga
Hati ini nan kecil menciut
Kecil, tipis dan hanya rapuh
Bibir ini mulai tersenyum kecut
Tersungging dengan hati yag lelah berpeluh
Dan aku tetap diam menahan tangis
Sesak! Menyergak dalam lara
Seiring hati ini mengkerut menatap masa
Namun tetap tak kan menangis
Subscribe to:
Posts (Atom)
