ini melelahkan
himpit menghimpit jejak yang terlanjur menepak
aku telah jauh berjalan
waktu ini akan habis tapak setapak
jengkal perjengkal terjal jalanan
kesakitan yang kian memuncak
raga ini ingin mundur perlahan
kematian yang kian detik berdetak
ini masih tentang waktu yang hanya aku butuhkan
-------------------------------------------------------------------------------------
tawa ini memudar
pecah terhalang
semburatnya berpendar..
aku lupa caraku membuat semua ini terasa nyaman. Aku terlena, mungkin karna terbiasa atau bahkan aku bosan.
Sunday, February 26, 2012
Friday, February 24, 2012
Masih.. Aku dan Cermin itu
Berdiri tepat dihadapanku, sebuah cermin besar,cukup besar hingga aku melihat betapa besarnya ia akan ketakutan,kerapuhan yg tersamarkan,keputus asaan yg tak sengaja ia gambarkan..
Aku menatapnya erat..
Merabanya pelan..
Jari jemari kita bersentuhan..
Oh Tuhan.. Aku hampir dapat merasakan betapa rapuhnya bayangan disana..
Yang bahkan hanya dengan sekali sentuh ia akan runtuh..
Aku menatapnya erat..
Tuhan..Ijinkan aku meyakinkan bayangan itu..
Matanya menatapku lekat..
Cermin..Yakinkan aku untuk meyakinkanmu..
Aku menatapnya erat..
Merabanya pelan..
Jari jemari kita bersentuhan..
Oh Tuhan.. Aku hampir dapat merasakan betapa rapuhnya bayangan disana..
Yang bahkan hanya dengan sekali sentuh ia akan runtuh..
Aku menatapnya erat..
Tuhan..Ijinkan aku meyakinkan bayangan itu..
Matanya menatapku lekat..
Cermin..Yakinkan aku untuk meyakinkanmu..
Labels:
absurdisme,
literature,
message,
poem,
puisi,
reason,
septia fani n adzani
Subscribe to:
Posts (Atom)