Sunday, April 24, 2011

I AM READING MY STEPS;





What if I leave this world for a while?



What if I can’t go back?



What if I have no way to back?



What if I forget the way to back?



What if that’s lead me to leave it first then
we can meet in our way back “down to earth”?



I needed someone to safe me there



I wanted to have someone to reminds me there



Then I can back anytime I want



But how is to safe a life?



If I could then I would



I decided to re-build my self defense



To be prepared and memorized how to go back



I was born alone



Then I would do it alone



Leaving all around alone

.

pemahaman tentang arti seorang teman


Jangan berjalan di depanku karena aku tak ingin mengikuti mu
Jangan pula berjalan di belakangku karena kau tak ingin memimpinmu
Berjalanlah disampingku dan jadikan lah aku sebagai temanmu
(Albert Camus; 1913-1960,French Existential Writer )

Boleh lah jika kau hanya ingin di belakangku
Menjadikan dirimu atas bayanganku
Namun jangan ada sesal bila aku tak lagi bisa melihatmu
Karena jika malam tiba
bayangan ku hilang
Karena jika saat tepat di tengah siang
bayang itu tak dapat kulihat

Baik lah jika kau ingin kan ku di belakang
Dan aku bersedia melangkah satu, dua bahkan tiga langkah ke belakang
Namun jangan pernah kau salah kan aku jika aku tak lagi bisa melihat mu
Karena terkadang kau berjalan terlau cepat
Hingga aku pun tak dapat mengejarnya
Karena jika suatu saat kau menghindar
Aku pun tak lagi bisa menemukan

7.58 PM
On this day today

Aku Tak Mau Lupa Jalan Pulang



23 April,2011
Jauh aku telah berjalan
Terkadang berlarian kecil namun tak berniat mengejar
Penat aku tertahan
Terkadang lara ku pendam namun tak sebegitu nanar

Dan aku berdiri disana
Di tepian tempat yang sempat ku anggap surga
Ramai akan hiruk pikuk manusia
Singgah di ruang hati yang sempat ku anggap pelipur lara

Awang terawang kosong
Aku masih saja di tempat yang sama yang selalu ku puja dulunya
Berarak-arak pikir nan kosong
Aku berdiam di sudut kotak yang pernah ku sebut mewah

Dan kini aku terengah
Lelah tanpa arah
Dan aku terperangah
Berbalik arah

Jauh nian aku telah berjalan
Perlahan susuri jalan itu tuk kembali pulang
Lelah nian aku tetap bertahan
Dengan beribu harap tuk tak lupa akan jalan ku pulang

aku dan cermin itu


aku seperti di hadapkan pada cermin besar yang hanya ada aku di dalamnya . dalam ruang berdinding-dinding putih nan tinggi yang aku tak tahu dimana ujung dan pangkalnya. Tegantung di tengah-tengah awing awing. Tekatung-katung bernyawa.

Cermin itu berdiri kokoh di hadapanku. Pada setiap sisi-sisinya yang memaksaku untuk melihat apa yang ada disana. Cermin itu cukup besar untuk mendapati aku yang terduduk diantara bujuran-bujuran harapan nyata.

Jauh dalam bayang cermin itu. Kulihat ia tersenyum saaat aku bahagia. Bangga saat aku menang. Tertawa tak bergelak saat aku larut dalam gelak serak tawaku yang aku tak begitu paham akan kebenarannya. Ia pun menangis bisu saat aku dalam rintihan. Dan ia kan terbujur lesu seperti saat aku lemah membatu.

Aku masih disini, bersama ruang yang tak terbatas. Menghadapan diri padanya cermin nan besar kokoh ini. Aku bergeming.. memaknai apa yang ada disana.