Monday, November 5, 2012
in between
Hanya ada dua pilihan. Antara memilih atau tidak sama sekali. Antara berbagi atau tidak sama sekali. Antara mengasihi atau tidak sama sekali. Antara memaafkan atau … menyerah, ya menyerah pada api merah yang menyala itu, luka lebar yang menganga itu. Bukanlah karena mereka menyelimutimu, membuatmu nyaman atas terselubungnya raga dalam gelap pesonanya yang membahana. Gelak tawa mu kian resah. Bukan bermakna pasrah. Belum pula menyerah. Sosok itu duduk terdiam jauh dan terlihat begitu dalam, sosok itu tak nampak lemah. Memang tak nampak. Tak sedikitpun nampak, namun hanya berisyarat melalui baris baris yang tak pernah dapat aku mengerti sepenuhnya. Berkata melalui celah celah nada, menitikkan airmata diantara tetes hujan yang menyegarkan jiwa ini yang sesungguhnya. Tak mudah. Aku tak dengan mudahnya menangkap sumbang nada, parau suaranya yang telah lama membisik ditelinga ini. Begitu pelan, begitu dalam, begitu samar hingga kerap membuat ia pun tak sadar akan paraunya suara diantara megah dan merdu nyanyiannya. Sosok itu kokoh, angkuh, yang sekaligus rapuh. Tak satupun, tak sedikitpun, tak tersentuh, tak tercium betapa anyir luka yang tak kunjung mengering itu. Luka yang sebenarnya kian menganga hingga warna putih tulang yang nampak, tulang putih yang nyata. Yang nyatanya memang begitu kokoh untuk menjaganya untuk tetap tegak. Untuk tetap merasakan linu di pergelangan sendinya. Tak susah, tak pernah terlalu susah untukku, mendapati dia yang terengah diantara riuh semangatnya yang pudar, diantara keterjagaannya akan raga yang kian usang,terengah ditengah-tengah sorak-sorak samar yang terlihat bahagia. Diantara dua pilihan. Antara memilih atau tidak sama sekali. Antara berbagi atau tidak sama sekali. Antara mengasihi atau tidak sama sekali. Antara memaafkan atau … menyerah. Ya menyerah akan dirinya. Menyerah akan lautan lukanya. Menyerah akan segala rasa dan bahagianya. Ya.. bahagia untuk mendapati dua pilihan sekaligus dalam hidupnya. Diantara dua pilihan. Antara memilih atau tidak sama sekali. Antara berbagi atau tidak sama sekali. Antara mengasihi atau tidak sama sekali. Antara memaafkan atau … menyerah. Ya menyerah akan ketidakmampuanku menyadari semuanya yang terlanjur terlambat, terlanjur berjalan lambat, terlanjur pudar yang samar namun jelas nanar. Tentang memilih… membagi…mengasihi … atau kembalinya lagi pada kata menyerah. Ya menyerah akan sakitnya pilihan pilihan ini, menyerah akan hausnya rasa membagi, menyerah akan betapa penyesalan ini ingin segera diampuni. Ya… aku. Aku yang menyerah… atau tidak memilih sama sekali. --“I’m always thinking hard to taking off your burden while I’m fixing my own so... Let me be…”— I’m in between.Journey-12.12-1012. in resume by Fan.Outside a broad downright rots the laughing luxury
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment