Friday, March 25, 2011

it is a message for leaving

Rasanya seperti ingin melakukan sesuatu yang tidak ku inginkan, atau bahkan sebaliknya… tidak ingin melakukan sesuatu yang sebenarnya ku ingin kan.

Gelap ini kembali menyapaku
Jauh-jauh dalam
Lekat-lekat tak pernah penat
Namun perih bak tergores sembilu
Cercah cerah itu kian samar
Pecah di heningnya pagi
Hasrat ini kian gusar
Goyah dan tak membara lagi

Aku terdiam sejenak, terlihat berpikir namun sebenarnya tidak. Tak sepatah kata pun mampu mengungkapnya. Ada apa dengan ku? Pikiran ini meneropong selongsong pipa panjang nan kosong.. tak berisi.. namun sebenarnya penuh sesak. Apa ini? Dan mengapa begini? Hanya itu yang hati ini pertanyakan.
Tak sebising hari lalu, mungkin juga tak sebising hari esok. Sosok-sosok ini pun tak lagi punya api. Tak ada yang membakar, bahkan hanya sedikit merasakan hangat. Didinginnya kabut yang menyapa pori kulit ini, aku pun masih terdiam.. tak lagi sejenak. Berbenak kacau bak serabut, aku masih disini dengan senyum-senyum kecut.
Sembilu-sembilu ini beterbangan, siap menyayat hati yang sudah cacat. Cih. Namun aku bergeming… toh semua sudah tampak sama dihadapanku. Bahkan kian tersamarkan karna terbiasa. Di ruang yang tak luas ini, bersama dinding-dinding putih yang kian menguning aku tetap bergeming. Tak ingin beranjak, tapi sebenarnya urung tinggal.
Aku bak saksi hidup yang membisu, terkungkung di sudut ruangan ini. Tak gelap.. terang namun syarat akan sesuatu yang gelap… gelap, dalam dan terlalu lama tersakiti. Aku ini saksi yang membisu diantara gaduhnya ceracau pikirku. Gelak tawa dan tangis kini tak bisa kubedakan lagi. Kadangkala aku senang dalam lara, kadang sedih dalam tawa. Gelisah dalam ketenangan, tenang dalam gusar.
Aku memang tak pandai berkata-kata, tak pandai berpetuah, tak pintar berperan. Aku hanyalah aku yang hanya bisa berbuat. Mengungkapkan segalanya dengan tingkah ku yang kadang nakal, brutal, dan seolah tak peduli akan sekitar.
Semakin banyak saja orang yang membicarakan “mati” di hadapan ku. Dengan serta merta mengegoiskan pikiran mereka yang bebal yang beradu dengan pikir ku yang tak kalah bebal. Aku tak suka dengan kata-kata “mati” . aku miris mendengarnya, menulisnya terlebih berucap tentangnya. Sudah terlalu banyak aku kehilangan dan aku tak ingin kehilangan lagi. Namun apa daya sang manusia jika ‘mati’ itu kan sudah menjadi kodrat dan kuasa – NYA. ‘Mati’ kata yang selalu saja menghantuiku akan rasa kehilangan, sakit yang tak kunjung terobati, sakit yang kan kian tersamarkan dengan kebahagiaan yang perlahan dating. Namun sebenarnya sakit itu tak pernah pergi. Mereka disana terkungkung dan akan senantiasa membawa kita kembali padanya saat kita merasa sendiri.
Dengan ke-egoisan mereka, mereka berkata tentang kematian. Tentang hal yang syarat akan kehilangan. Tak sadar kah mereka? Bahwa kehilangan itu sakit?? atau tak sadarkah mereka akan sakitnya meninggalkan segala sesuatu yang telah mereka raih? ‘Mati’ memang proses hidup yang wajar. Aku tau bahwa semua manusia memang berujung pada ajal. Namun sadarkah mereka? Bahwa ajal bukan untuk di jemput? Tak lain, ajal lah yang akan menjemput kita.
Saat sang Izrail datang, atas perintahNYA. Saat itulah saat dimana kami para manusia akan merasa kan dua hal yang berbeda. Takut untuk pergi dan takut kehilangan. Meninggal kan dunia fana, berhenti melakukan hal hal duniawi yang kita cinta. Bernyanyi, bersosialisasi, dan beribadah padaNYA, semua itu terhenti saat waktu kita telah habis.
Kadang aku tak lagi dapat membedakan mana memanfaatkan dan mana yang menghabiskan waktu? Saat salah seorang temanku berkata, bahwa ia tak ingin menyianyiakan sisa waktu, sisa umur yang ia miliki di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Bukan kah selalu sama? Jika dua kata itu kita hadapkan dengan kematian? Dua kata itu kan berujung pada satu hal yang kusebut menunggu. Menunggu habisnya masa mu, menunggu kapan ajal menjemput mu.
Satu persatu orang yang kucintai memang telah pergi… dapat kah kau bayangkan bagaimana kehilangan orang yang kau cintai teman? Sakit bukan? Aku tau, ‘mati’ itu bukanlah pilihan. Tapi aku kan lebih memilihnya daripada merasakan kehilangan. Lebih baik aku yang pergi, daripada aku merasakan sakit yang sama lagi… hahahahha.. betapa egoisnya diri ini.
Terlewat sudah malam ini… sukses! Tanpa harus menghadiri pikiran-pikiran yang akan menghantui tidur ku. Pikiran tentang kata-katanya saat dengan mudahnya ia mengatakan “I m fine” aku baik baik saja, aku sehat kok, tenang saya aman… padahal sebenarnya tidak. Dia selalu mengatakan “don’t be afraid if I leave…” seperti bait bait lagu dengan melodi nan indah. Kata-kata itu terus saja berulang-ulang dalam pikir ku.
Don’t be afraid if I leave you
Don’t be afraid if I m gone from you
Cause with me or not, you are always be the best for your life
By this song I hope you all will understand
About what I want
I just want to be here in your hug
I just want to suck this smoke with you
I want to share this drink for you
I want to be your bad partner soul

Song by : ....

Ini lagu yang akan selalu kuingat, baik untuk mu maupun untukku sendiri. Dan sesungguhnya aku tau..
“When I asked you, you’re always saying ‘I am fine’ though you’re not. But you know...Every time I am asking.. I just afraid to loose, and you just afraid to leave”

No comments:

Post a Comment