Pagi ini aku terbangun dari lelap tidurku semalam. Terjaga akan lamunanku yang segera buyar seketika saat aku menatap dinding ini. Dinding yang sama tertoreh harapan-harapan disana.
‘aku ngerasa aku sudah dekat’ ucapnya malam hari itu.
Aku tak begitu berani bertanya lebih dalam sampai sebelum ia mengatakan kami telah dekat. Entah sejengkal atau dua, tiga dan lebih lagi kami sampai. Entah sampai pada peraduan mana. Kami hanya merasa dekat. Kami hanya merasa harus tetap berjalan “ayo jalan, sedikit lagi kita sampai” katanya meyakinkan aku sekali lagi.
Aku membiarkan diri ini bernafas dalam sengal keabadian semangat yang kian pudar.
Aku mengijinkan diri ini hanyut terlarut seperti larutan garam yang hilang bersama air yang sudah terlanjur kering sekarang. Aku menghilang tanpa bekas. Aku nenepak tanpa jejak. Aku menulis tanpa syair. aku memetik dawai gitar tanpa senar. Aku bernyanyi tanpa nada dan suara.
Walaupun aku membiarkan diri ini bernafas dalam sengal keabadian semangat yang kian pudar. Aku mengijinkan diri ini hanyut terlarut seperti larutan garam yang hilang bersama air yang sudah terlanjur kering sekarang.
Walaupun aku akan menghilang tanpa bekas. Walaupun aku telah menepak tanpa jejak. Walaupun aku menulis tanpa syair. walaupun dawai petik gitar ku tak lagi terdengar, walaupun nyanyianku tak tertangkap oleh sumbang nada sekalipun. Aku tetap disini. Entah hidup atau mati. 17 april 2013. 9.05
No comments:
Post a Comment